Kamis, 23 April 2009

Heboh di Negeri Ijazah

Saya tak akan menyalahkan lembaga atau perusahaan yang menrima karyawan berdasar ijazah yang dimiliki. Di Indonesia, hal itu memang satu syarat dan syarat no satu. Karena itu banyak pihak yang menawarkan ijazah secara instan. Ada yang palsu dan ada yang ilegal. Dua hal ini beda lho :)

Tadi malam saya baca di metrotv (text berjalan) PGRI NTB: 5000 ijazah S1 dan 400 ijazah s2 guru-guru di NTB ilegal. Saya tak tahu apakah berita itu sudah diklarifikasi atau belum, benar atau salah. Yang jelas sangat mengerikan. Ironis sekali..

Kejadian serupa sebenarnya telah terjadi di Jogja, kalau ini sudah terbukti, dan tersangka sudah di proses secara hukum. Memang hanya satu prodi saja yaitu bimbingan konseling dari STKIP Catur sakti Bantul. Ijazah yang dikeluarkan tidak sesuai dengan prosedur yang ditetapkan oleh Kopertis. Kebanyakan adalah mahasiswa (yang juga guru) yang telah lulus D3 dan ingin meraih gelar S1. Hal ini sebagai syarat minimal pendidik, yaitu berijazah S1. Juga untuk meraih golongan lebih tinggi yang berimbas pada gaji dan tunjangan yang diterima.

Sebenarnya jika ingin meraih S1, lulusan D3 dapat melanjutkan kuliah lagi, dan mengulang mata kuliah yang belum pernah diambil. Jadi tidak otomatis nilai dan jumlah sks D3 bisa dikonversi ke nilai dan sks S1 meski dari prodi yang sama. Tapi yang terjadi adalah mahasiswa D3 tinggal melengkapi jumlah sks S1, jika kurang 10 ya 10 sks saja kuliahnya. Termasuk juga dari D2. Inilah yang menyebabkan menjadi ilegal. Karena cara memperolehnya tidak sesuai aturan.
Konsekwensinya tentu saja penurunan pangkat/golongan, bahkan mungkn semua kelebihan gaji yang diterima harus dikembalikan. Ironis..

Lain lagi dengan ijazah palsu. kalau ini, memang memalsukan. Tanpa ikut kuliah, tinggal cari blanko ijazah saja. Seperti yang terjadi di tahun 2008. Ada seseorang yang mengaku dokter spesialis kandungan lulusan Undip, diterima di salah satu rumah sakit di daerah. Saat diminta untuk membantu persalinan seorang ibu dengan cara operasi cesar, si dokter malah diam di samping meja operasi sambil berkeringat dingin karena ketakuta, sementara pasien sudah kesakitan. Akhirnya operasi diambil alih oleh dokter umum yang ada di ruang itu. Setelah selesai operasi, dokter umum itu melaporkan si "dokter spesialis" kepada kepala rumah sakit yang langsung mengecek biodata berikut ijazahnya. Lalu segera melakukan konfirmasi ke kampus Undip dan ternyata palsu. NIM nya pun punya orang lain. Gila gak tuh..
Untung gak jadi mengoperasi kalau jadi, bagaimana jadinya ....

Jadi teringat artikel Antara news, kalau di Malaysia jika ingin kerja maka hal pertama yang ditanya adalah: kamu bisa apa, ini kata TKI yang kerja disana. Lalu di tes benar bisa apa tidak.

Jadi bagaimana sekarang? Pilih kualitas apa Ijazah? yaa dua-duanya lah....

5 komentar:

  1. gila itu dokter spesialis kandungan..nekat banget..kan tugas dokter berat, menyangkut nyawa manusia.
    keterlaluan..

    BalasHapus
  2. namanya juga jaman edan :)
    makasih udah mampirn komen meski hujan lebat :)

    BalasHapus
  3. gawat kali ya sekarang...

    memang integritas sedang dipertanyakan di bangsa ini

    BalasHapus
  4. Parah deh di Indonesia. masalahnya yg diukur cm dr ada atau tidaknya ijazah kl di Indonesia. Beda dgn luar negeri sprtiu america yg mengutamakan skill dr individu...

    BalasHapus