Sabtu, 21 Mei 2011

Kongres PSSI kembali Kisruh dan Tanpa Hasil

Kongres PSSI kembali kisruh. Meski kali ini tanpa ribut-ribut, tapi akhirnya kongres yang juga beragenda pemilihan ketua umum PSSI, ditutup tanpa menghasilkan apapun, PSSI kini justru hanya menunggu sikap dari FIFA. Kongres PSSI yang diharapkan dapat menyelesaikan masalah yang membelit organisasi sepak bola Indonesia, utamanya soal pemilihan ketua umum ini, berakhir mengecewakan.

Kongres PSSI ditutup pukul 20.50 WIB oleh Ketua Komite Normalisasi (KN) Agum Gumelar yang bertindak sebagai Ketua Sidang, karena terjadi deadlock. Suasana di dalam kongres dinilai sudah tidak kondusif. Masing-masing kelompok ingin mempertahankan pendapatnya sendiri. Khususnya Kelompaok 78 yang sepertinya memaksakan kehendak untuk memasukkan nama Toisutta dan Arifin panigoro sebagai calon ketua umum PSSI.

Meski ada belasan calon ketua umum yang layak dipilih, tapi kelompok 78 tetap menginginkan dan cenderung memaksa agar calonnya bisa maju, meski hal itu bertentangan dengan keputusan FIFA. Banyak interupsi yang dilakukan utamanya yang terkait dengan pencoretan dua orang itu saja. DAn pemilihan ketua umum PSSI kembali gagal.

Kongres memanas saat sesi kedua dimulai setelah sidang dimulai lagi usai rehat dari jam 18.00 sampai dengan 19.00. Saat itu Agum Gumelar menawarkan voting kepada para peserta kongres untuk meneruskan sidang sesuai agenda atau tidak. Tapi tawaran itu disambut dengan banyak interupsi dengan mempermasalahkan voting itu akan dilakukan terbuka atau tertutup.

Voting itu dilakukan sebagai solusi untuk menentukan agenda sidang selanjutnya. Tapi, beberapa peserta kongres justru kembali menggugat agar menghadirkan dan mendengar keputusan Komite Banding Pemilihan berkaitan dengan pencalonan George Toisutta dan Arifin Panigoro sebagai ketua umum dan wakil ketua umum PSSI.

Semua pihak seharusnya mementingkan kepentingan masyarakat luas. Mendengar aspirasi pemilik suara sah sebenarnya perlu dilakukan, meski akan sangat lama dan melelahkan, toh itu terjadi 4 tahun sekali. Kita tunggu saja keputusan FIFA. Apakah FIFA masih punya kesabaran atau tidak. Kini persepakbolaan nasinal dibayang-bayangi sanksi pembekuan dari FIFA yang berarti kita tidak boleh ikut kompetisi sepak bola yang dilakukan oleh FIFA.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar