Sabtu, 28 Mei 2011

Membetulkan Arah kiblat

Ka'bah adalah sebuah bangunan berbentuk seperti kubus yang berada di tengah Masjidil Haram di kota Mekah. Bangunan ini dijadikan sebagai patokan arah kiblat untuk ibadah umat Islam di seluruh dunia, khususnya ibadah salat dan haji. Menghadap ka'bah pada saat shalat atau berlari mengelilingnya saat haji dan umrah bukanlah berarti menyembahnya, seperti orang dulu menyembah batu atau pohon besar. Bukan pula menyembah hajar aswad, seperti tuduhan beberapa orang kafir. Meski dari penelitian diketahui bahwa batu Hajar Aswad merupakan batu tertua di bumi dan bahkan bisa mengambang di air. Di salah satu museum Inggris tersimpan tiga buah potongan batu tersebut dan pihak museum juga menyatakan bahwa bongkahan batu tersebut bukan berasal dari sistem tata surya kita. Ini sama seperti dinyatakan sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda: “Hajar Aswad itu diturunkan dari surga, warnanya lebih putih daripada susu, dan dosa-dosa anak cucu Adamlah yang menjadikannya hitam.”

Lalu mengapa umat Islam harus menghadap ka'bah/ kiblat saat melaksanakan shalat?
Sebenarnya masalah ini adalah bagian sejarah manusia yang paling tua di dunia. Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi seluruh manusia . (QS. Ali Imran : 96).

Ka'bah pernah mengalami kerusakan saat terjadi banjir besar di zaman Nuh. Lalu dibangun kembali oleh Nabi Ibrahim dan Ismail. Mereka menjadikannya sebagai tempat beribadah.

Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan), "Janganlah kamu memperserikatkan sesuatu pun dengan Aku dan sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang yang tawaf, dan orang-orang yang beribadah dan orang-orang yang rukuk dan sujud. Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh, supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir. (Al Hajj 26-28)

Ketika masa kenabian Muhammad, awalnya beliau di perintah agar menghadap ke baitul Maqdis di Palestina saat shalat. Rasulullah saw mantaati perintah ini dan berusaha untuk tetap shalat menghadap ke Ka’bah, jadi beliau shalat di sebelah selatan Ka’bah, menghadap ke utara. Maka selain menghadap Baitul Maqdis di Palestina, nabi Muhammad tetap bisa menghadap Ka’bah, tempat dimana pendahulunya (Ibrahim dan Ismail) suka beribadah.

Ketika Nabi Muhammad dan para shahabat hijrah ke Madinah, maka kebiasaan menghadap ke dua tempat ini menjadi tidak mungkin, karena arahnya saling berlawanan. Hal ini terjadi sampau turun ayat: "Sungguh Kami melihat mukamu menengadah ke langit , maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang yang diberi Al Kitab memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan." (QS. Al-Baqarah : 144).

Sejak turunnya ayat 144 dari surat al Baqarah inilah maka setiap muslim yang mendirikan shalat harus menghadap ka'bah di masjidil haram sebagai kiblat umat Islam. Jadi sedapat mungkin, seorang muslim saat shalat dapat menghadapkan mukanya ke arah ka'bah.

Dengan berbagai keutamaan yang dimilinya, maka penting bagi kita untuk tahu posisi ka'bah dengan benar, tak sekedar menghadap ke arah barat. Untuk menentukan posisi ka'bah sebagai arah kiblat dengan presisi dapat dilakukan dengan merujuk pada kordinat Bujur / Lintang dari lokasi Ka'bah di kota Mekkah terhadap titik-titik lokasi orientasi dengan menggunakan perangkat GPS. Untuk itu dapat digunakan hasil pengukuran koordinat Ka'bah berikut sebagai referensi penentuan arah kiblat. Lokasi Ka'bah,

* 21°25‘21.2“ Lintang Utara
* 039°49‘34.1“ Bujur Timur
* Elevasi 304 meter (ASL)

Kita pun dapat secara sederhana melakukan penyesuaian arah kiblat. Dua kali setahun, matahari akan tepat berada di atas kota Mekkah tepatnya pada tanggal 28 Mei pukul 16:18 WIB dan tanggal 16 Juli pukul 16:27 WIB. Sehingga jika pengamat pada saat tersebut melihat ke matahari, dan menarik garis lurus dari matahari memotong ufuk/horizon tegak lurus, pengamat akan mendapatkan posisi tepat arah kiblat tanpa harus melakukan perhitungan sama sekali. Atau cukup dengan memperhatikan arah bayangan. Arah asal/sumber bayangan itulah arah kiblat.

Tapi penentuan arah kiblat dengan cara melihat langsung posisi matahari seperti di atas, tidak bisa dilakukan di semua tempat. Hal ini karena bentuk Bumi yang bulat. Tempat yang bisa menggunakan cara di atas adalah tempat yang posisinya terpisah dengan Mekkah kurang dari 90ยบ. Mudahnya cara diatas tidak berlaku di wilayah Indonesia bagian timur, karena pada jam itu matahari telah terbenam. Tapi jangan khawatir, bagi tempat tersebut, bisa menunggu 6 bulan kemudian. Pada tiap tanggal 28 November 21:09 UT (29 November 04:09 WIB) dan 16 Januari 21:29 UT (17 Januari 04:29 WIB), Matahari tepat berada di bawah Ka'bah. Jadi, pada saat tersebut, jika pengamat tepat menghadap ke arah Matahari, pengamat tepat membelakangi arah kiblat. Jika pengamat memancangkan tongkat tegak lurus, maka arah jatuhnya bayangan tepat ke arah kiblat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar