Selasa, 14 Juni 2011

Pesawat Kepresidenan RI

Pemerintah Indonesia akan membeli pesawat kepresidenan berjenis Boeing Business Jet 2 (BBJ2) seharga US$ 58 juta (Rp 500 miliar). Pemerintah dan DPR sudah sepakat soal anggaran pembelian pesawat dari APBN. Pesawat yang diperuntukan mengangkut presiden atau wakil presiden saat melakukan kunjungan kerja ini rencananya akan mulai dirakit tahun 2012 dan datang pada 2013. Jadi tak lama lagi Indonesia akan memiliki pesawat kepresidenan sendiri, meski tak secanggiih Air Force One yang dipakai Barack Obama.

Sesuai namanya, pesawat boeing business jet ini biasa dipakai para pebisnis papan atas yang butuh mobilitas tinggi dan ketepatan waktu dari satu negara ke negara lain. Pesawat BBJ2 dibuat oleh Boeing Commercial Airplanes dan General Electric, Amerika Serikat. Garuda INdonesia juga memiliki pesawat tipe BBJ2 ini untuk tujuan komersial.

Pesawat BBJ2 untuk komersial dan pebisnis (private jet) berbeda pada desain dalam/interior pesawat. Boeing BBJ2 yang digunakan untuk komersial didesain mengangkut sekitar 200 orang dan harganya sekitar US$ 50 juta. Sedang untuk kepentingan pribadi/pebisnis, desain interior pesawat diubah dengan memberi berbagai kelengkapan nan mewah. Kapasitas angkutnya juga dibatasi untuk 30-70 orang dan harga disesuaikan dengan keinginan pemesan.

Menteri Sekretaris Negara, Sudi Silalahi, mengatakan pembelian pesawat kepresidenan bisa menghemat anggaran Rp 114,2 miliar setahun. Penghematan ini maksudnya bila dibandingkan dengan menyewa pesawat dari Garuda Indonesia tiap akan melakukan kunjungan. Pesawat khusus presiden juga dinilai lebih aman karena diawasi dan dijaga oleh TNI AU. Sudi SIlalahi memberi angka selama lima tahun (2005-2009), anggaran mencarter pesawat US$ 91,9 juta (Rp 919,6 miliar) dan terealisasi Rp 813,7 miliar. Dengan biaya sewa selama 5 tahun ini, kata dia, sudah cukup untuk membeli pesawat US$ 85,4 juta.

Meski demikian, hemat atau tidak sangat tergantung pada intensitas kegiatan presiden dalam menggunakan pesawat. Jika dalam setahun jumlah penerbangan presiden dengan pesawat minim, pembelian ini tak berpengaruh banyak. Karena, meski harga pembelian lebih murah dari biaya sewa tapi biaya perawatan mesin pesawat BBJ2 juga tidak murah. Perlu juga dilihat, kemana presiden lebih banyak melakukan kunjungan kerja. Jika lebih banyak melakukan kunjungan kerja kedaearah, maka pemakaian pesawat berbadan besar macam Boeing juga kurang pas, mengingat banyak daerah yang hanya memiliki bandara dengan landasan pendek.

Menurutku membeli pesawat dari dalam negri macam CN-235 atau CN-295 lebih baik dari sisi manfaat. Pesawat CN 235 (versi VIP) sangat cocok untuk kunjungan domestik. Meski secara gengsi kalah, tapi pesawat ini murah baik dari sisi pengadaan, perawatan, atau operasional. Bisa juga CN-295 yang memiliki badan lebih besar. Penggunaan pesawat produksi dalam negeri akan mengangkat citra PT DI dan negara, jika presiden puas naik ke pesawat produksi dalam negeri, bukan tidak mungkin negara lain pun akan memesan CN-235 sebagai pesawat kenegaraan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar