Senin, 08 Agustus 2011

Manfaat Puasa Bagi Otak Manusia

Aktivitas umat Islam berpuasa selama satu bulan, membuat tubuh menjalani rutinitas makan sahur, menahan diri dari makan, minum, dan aktivitas seksual selama siang hari, kemudian berbuka puasa di waktu maghrib ditambah aktivitas ibadah Ramadan lainnya. Hal ini berpengaruh juga pada aktivitas otak. Otak selalu merekam kegiatan-kegiatan yang dilakukan secara simultan.

Puasa adalah perintah agama. Sedang agama atau spiritualitas adalah salah bentuk perilaku manusia yang dikontrol oleh otak. Puasa menjadi latihan mental yang berkaitan dengan sifat otak, yakni neuroplastisitas. Sel-sel otak dapat mengalami regenerasi dan membentuk hubungan struktural yang baru, salah satunya karena latihan mental yang terus-menerus. Puasa adalah salah satu latihan mental yang menggunakan metode latihan menahan kebutuhan fisik/biologis.

Mudahnya, apabila seseorang melakukan perbuatan baik secara terus-menerus, struktur otaknya akan berubah. Waktu yang diperlukan untuk mengubah sel saraf minimal 21 hari. Selain membentuk struktur otak baru, puasa juuga dapat merelaksasi sistem saraf, terutama otak. Namun terdapat perbedaan mendasar antara relaksasi sistem pencernaan dan sistem saraf. Selama puasa, sistem pencernaan benar-benar beristirahat saat siang hari, sementara itu di dalam otak orang yang berpuasa justru terjadi pengelolaan informasi yang cukup banyak.

Puasa adalah salah satu bentuk tazkiyatun nafs (penyucian jiwa) dan tarbiyatun iradah (mendidik kehendak). Karena itu, sejak berniat puasa, perilaku selama berpuasa dan aktivitas lainnya berada dalam konteks menyucikan hawa nafsu, menumbuhkan, dan mengelola kemauan-kemauan manusia.

Luqman al-Hakim -salah satu tokoh dalam al qur'an- pernah memberi nasihat kepada anaknya, "Wahai anakku, apabila perut dipenuhi makanan, maka gelaplah pikiran, bisulah lidah dari menuturkan hikmah/kebijaksanaan, dan malaslah segala anggota badan untuk beribadah."

Di dalam Al-Quran, ditemukan istilah an-Nafs al-Muthmainah - dalam surat al fajr- yang berarti jiwa yang tenang, karena saat suasana tenang orang dapat berpikir dengan baik dan memiliki kepekaan hati yang tajam. Ketenangan ini membuat orang tidak bersikap reaktif menghadapi permasalahan. Contohnya, otak dapat mengingat dengan baik pada saat tenang dan rileks.

Untuk diketahui, otak manusia terdiri dari triliunan sel yang terhubung satu sama lain. Di dalamnya bisa disimpan 1 miliar bit memori. Jumlah ini sama dengan informasi dari 500 set ensiklopedia lengkap. Luar biasa bukan?

Di dalam otak, terdapat sel yang disebut sebagai neuroglial cells. Fungsinya adalah pembersih otak. Saat berpuasa, sel-sel neuron yang mati atau sakit akan 'dimakan' oleh sel-sel neuroglial ini. Maka tidak mengherankan jika ternyata Fisikawan terkemuka dunia, Albert Einstein dikenal sebagai orang yang suka berpuasa. Ketika mendonasikan tubuhnya, para ilmuwan menemukan sel-sel neuroglial di dalam otak Einstein 73 persen lebih banyak dibandingkan orang kebanyakan.

Sebuah penelitian yang dilakukan John Rately, seorang psikiater dari Universitas Harvard, Amerika Serikat, menunjukkan bahwa pengaturan dan pembatasan asupan kalori meningkatkan kinerja otak. Dengan alat functional Magnetic Resonance Imaging (fMRI), Rately memantau kondisi otak orang yang berpuasa dan yang tidak. Hasilnya, orang yang berpuasa memiliki aktivitas motor korteks yang meningkat secara konsisten dan signifikan.

1 komentar:

  1. kunjungan balik

    waduh mantap nih infonya,,,

    makasih ya,,,

    udah mampir keblog saya http://hermawanputra.wordpress.com

    BalasHapus