Jumat, 04 November 2011

Dalil Hukum Penyembelihan Kurban dan Tata Cara Ibadah Kurban

Sebentar lagi kita akan merayakan hari raya Idul Adha, tepatnya hari Minggu 6 November. Pada hari itu, umat Islam yang mampu memotong hewan kurban. Maka hari raya idul ad'ha juga dikenal dengan hari idul qurban atau nahr.

Ibadah Kurban berarti mengorbankan segala sesuatu yang mendekatkan seorang hamba dengan Tuhannya baik berupa sembelihan atau yang lainnya.

Namun demikian kata kurban saat ini identik dengan menyembelih hewan udhiyah, seperti: kambing, sapi, kerbau, atau unta yang dilakukan pada hari raya kurban dan hari tasyrik (yaitu 3 hari setelah hari raya idul ad'ha atau tanggal 11, 12,13 Dzulhijjah) sebagai bentuk taqorrub (pendekatan diri) kepada Allah swt.

Dalil/ Ayat yang memerintahkan umat islam agar berkorban adalah surat al Kautsar ayat 1-3 “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu Dialah yang terputus.” (QS. Al Kautsar : 1- 3)

Oleh karena itu hukum ibadah kurban/ menyembelih hewan kurban adalah sunnah muakkadah bagi yang mampu. Dan jika mampu tapi meninggalkannya maka ingatlah apa yang diriwayatkan Ibnu Majah dari dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barangsiapa memiliki keluasaan (untuk berkorban) namun tidak berkorban, maka janganlah ia mendekati tempat shalat kami."

Dalam hadits riwayat Bukhori dan Muslim bahwa Nabi saw pernah berkurban dengan dua kambing gibasy yang berwarna putih kehitam-hitaman dan bertanduk. Beliau sendiri yang menyembelih kurban tersebut dengan membacakan nama Allah (bismillah) serta bertakbir pada saat memotongnya.

jumlah binatang kurban
Ibnu Majah meriwayatkan dari 'Atha bin Yasar dia berkata, "Saya bertanya kepada Abu Ayyub Al Anshari, "Bagaimanakah dengan hewan kurban kalian pada masa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam?" dia menjawab, "Pada masa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, seseorang berkurban dengan seekor kambing untuk dirinya sendiri dan keluarganya, lalu mereka memakan (sebagiannya) dan memberi makan kepada orang lain sehingga orang-orang pun bergembira karenanya. Dan hal itu terus berlanjut sebagaimana yang kamu lihat seperti saat ini."

Dalam hadits riwayat Tirmidzi dari Aisyah berkata,”Sesungguhnya Nabi saw pernah berkurban seekor gibas yang bertanduk, terdapat warna hitam di badannya, warna hitam di kakinya dan warna hitam di kedua matanya.”

Para ulama telah sepakat bahwa korban seekor kambing atau domba adalah untuk satu orang sedangkan seekor sapi atau unta untuk adalah untuk tujuh orang (baik kerabat atau orang lain), sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Jabir bin Abdullah berkata,”Kami pernah berkurban bersama Rasulullah saw di Hudhaibiyah : satu ekor unta untuk tujuh orang, begitu juga dengan satu ekor sapi.”

Waktu Penyembelihan hewan Kurban
Disyaratkan bahwa hewan kurban disembelih setelah selesainya ibadah shalat id dan boleh dilaksanakan pada hari tasyrik baik di malam maupun siangnya. Yang dimaksud hari tasyrik adalah tiga hari setelah hari raya idul ad'ha atau tanggal 11,12,13 Dzulhijjah, pada hari-hari itu umat islam dilarang berpuasa.

Dalilnya adalah Hadits riwayat al Barro’ dari Nabi saw bahwa beliau saw bersabda,”Sesungguhnya hal pertama yang kita lakukan pada hari ini adalah shalat, kemudian kembali dan menyembelih kurban. Barangsiapa yang melakukan itu berarti ia mendapatkan sunnah kami. Dan barangsiapa yang menyembelih sebelum itu maka daging sembelihannya untuk keluarganya dan tidak dinilai sebagai ibadah kurban sama sekali.”

Imam Bukhori dan Muslim meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda,”Barangsiapa menyembelih kurban sebelum shalat sesungguhnya ia menyembelih untuk dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang menyembelih setelah shalat dan dua khutbah sungguh ibadah idul adhanya sempurna dan melaksanakan sunnah kaum muslimin.”

Jika anda ingin melaksanakan ibadah qurban, maka ada beberapa hal yang harus diperhatikan, mulai dari memilih hewan qurban, proses pemotongan, hingga pembagian dagingnya.

Berikut sedikit uraian dari hal-hal diatas
Pertama: membeli hewan qurban.
Pastikan bahwa hewan tersebut dalam keadaan sehat. Biasanya sehat tidaknya hewan dapat dilihat dari bentuk fisik hewan. Seperti kita tahu bahwa mengkonsumsi hewan yang sakit dapat membahayakan masyarakat yang menerima daging hewan tersebut.

Pilih Penjual yang baik, yang memeriksakan kondisi hewan qurban ke dokter hewan dari departemen pertanian atau dinas peternakan. Pilihlah kambing, domba atau sapi yang sudah melalui pemeriksaan dari dinas peternakan. Ada sertifikat atau surat keterangan dari dinas peternakan. Selain itu, Pilih hewan yang sudah cukup umur, bertanduk, besar dan dagingnya banyak.

kedua: proses penyembelihan
Artinya : “Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebahagian dari syi'ar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, Maka sebutlah olehmu nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat). “ (QS. Al Hajj : 36)

Orang Yang Menyembelih Kurban, dalam Fatwa MUI Nomor 12 tahun 2009 tentang Standar Penyembelihan hewan, menyebutkan bahwa seorang penyembelih hewan harus beragama Islam, sudah akil baligh (dewasa), memahami tata cara penyembelihan secara syar'i, serta memiliki keahlian dalam penyembelihan.


Jika orang yang berkurban memiliki kepandaian dalam menyembelih hewan maka disunnahkan melakukannya sendiri untuknya. Menyembelih sambil mengucapkan: bismillah wallahu akbar. Allahumma hadza an fulan… (Dengan nama Allah. Allah Maha Besar. Wahai Allah hewan kurban ini dari si fulan ( fulan diganti dengan nama orang yang berkurban).

Adapun cara menyembelihnya dilaksanakan dengan niat menyembelih dan menyebut asma Allah. Penyembelihan dilakukan dengan mengalirkan darah melalui pemotongan saluran makanan (mari'/esophagus), saluran pernafasan/tenggorokan (hulqum/trachea), dan dua pembuluh darah (wadajain/vena jugularis dan arteri carotids). Semua saluran/urat itu harus putus kesemuanya. jika ada satu yang belum terputus biasanya hewan itu akan tetap hidup dan bahkan bisa berlari. Proses tersebut harus dilakukan dengan satu kali secara cepat agar tidak menyakiti/menyiksa hewan itu.

Ketiga: Pembagian Daging Kurban

Orang yang berkurban boleh memakan sebagian dagingnya, membagikannya kepada karib kerabat, serta menyedekahkannya kepada orang-orang fakir, sebagaimana sabda Rasulullah saw,”Makanlah oleh kalian, bagikanlah dan simpanlah..” (HR. Tirmidzi)

Daging kurban ini boleh dibawa ke negara lain akan tetapi tidak boleh dijual walaupun kulitnya, tetapi jika ditukar dengan daging maka boleh. Dagingnya boleh diolah menjadi kornet agar awet dan dapat didistribusikan ketempat yang jauh.

Tidak boleh memberikan kulit/dagingnya kepada tukang potong sebagai upah karena ia berhak menerima upah lain sebagai imbalan kerja. Orang yang berkurban boleh bersedekah dengan daging tersebut dan juga boleh mengambil dagingnya untuk dimanfaatkannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar